BDGNEWS.CO.ID – Paguyuban Bandungariung yang merupakan komunitas berisi orang-orang yang cinta dan peduli Kota Bandung, serta berasal dari beragam latar belakang, dan tidak berafiliasi pada aliran politik, agama, golongan tertentu memberikan pandangannya terkait kriteria Walikota Bandung 2024 mendatang.
Hal ini terungkap di acara Riungers, Rabu malam, (6/9/2023), di D’Botanica jalan Dr Djunjunan kota Bandung.
Salah satu Narasumber sekaligus pemerhati kota Bandung dari Paguyuban Bandungariung, Martin Benjamin Chandra kepada para awak Media mengatakan, Paguyuban Bandungariung di acara Riungers selalu memilih materi berdasarkan masalah-masalah utama yang ada di kota Bandung.
Martin menegaskan, masalah utama kota Bandung saat ini adalah sampah, menurutnya kalau macet dan banjir sudah menjadi tradisi di kota Bandung, namun ada masalah lainnya, yakni masalah kabel.
“Kita lihat pemandangan kabel-kabel yang ada di kota bandung sangat menyedihkan dan memprihatinkan, pemasangan kabel sembarangan dan tidak pakai manajemen sistem yang baik,” ungkap Martin.
Masalah lainnya menurut Martin, masyarakat dan stakeholder ingin mendapatkan jaminan keamanan di kota Bandung 1×24 jam.
Terkait Walikota Bandung mendatang, pihaknya berharap Walikota selaku pejabat publik harus menjadi Bapaknya orang Bandung.
“Jadi sebagai Bapaknya orang Bandung harus mengetahui keluarganya bagaimana, permasalahan di keluarganya bagaimana, solusinya bagaimana,” ujar Martin.
Menurut Martin, jika Walikota Bandung mendatang memunculkan jargon konvensional, muluk-muluk, dan bagus-bagus, menurutnya semua orang pasti membuat jargon dan konsep seperti itu, apalagi di saat pemilihan.
“Tapi masalahnya adalah punya tidak Walikota mendatang satu gagasan jelas untuk menyelesaikan masalah yang ada di Kota Bandung, karena masalah di kota Bandung sudah sangat kompleks, dan masalah tersebut memerlukan solusi bukan rencana lagi,” tegas Martin
Martin berharap Walikota Bandung mendatang harus punya aksi yang jelas, dan membuat materi kampanye seperti karya ilmiah, dan bukan wacana-wacana publik lagi.
Karena menurutnya, sering kali pihak yang mendapat amanah menjadi pejabat publik ketika mereka kampanye mereka belum tahu kondisi yang sebenarnya dilapangan seperti apa.
Sehingga mereka membuat janji yang indah dan bagus tetapi ketika sudah menjadi pejabat publik mereka baru tahu bahwa kesulitannya sangat tinggi dan beragam.
“Jadi kami rasa siapun nanti menjadi kandidat Walikota Bandung 2024 harus tahu masalah apa yang ada di kota Bandung, dan apa penyebab masalah tersebut bertahun-tahun tidak ada solusi,” kata Martin.

Lebih lanjut Martin mengatakan, ada beberapa hal di kota Bandung yang belum terlihat dan belum diperhatikan secara serius, “Paling jelas masalah saat ini di kota Bandung adalah masalah sampah,” ujarnya.
Menurut Martin, pengelolaan sampah di kota Bandung polanya masih buang, pungut, timbun, dan telah berlangsung sejak zaman dahulu, “Lihat sekarang kita mulai menuai masalah satu demi satu terkait pola pengelolaan sampah,” ujarnya.
Masalah kedua menurut Martin yakni tidak seriusnya penataan transportasi publik di kota Bandung, “Banyak traffic dari timur ke barat, barat ke timur karena mereka bekerja berjauhan dengan tempat tinggalnya, dan hal itu menjadi beban lalu lintas di kota Bandung, bahkan sudah dibilang tidak dapat teratasi ditambah bertambahnya kendaraan pribadi dan minimnya transportasi publik,” ujarnya.
Masalah ketiga menurut Martin, warga mulai harus concern dengan masalah ketersediaan air bersih, “Konon PDAM kota Bandung hanya mampu menyuplai air bersih 60 persen dari total kebutuhan air bersih warga kota Bandung, sisanya masyarakat melubangi tanah, membuat sumur, dan itu akan membuat struktur daya dukung tanah di kota Bandung akan melemah, karena banyak sekali rongga, apalagi industri ikut mengambil debit air tanah yang jumlahnya sangat besar,” ungkapnya.
“Jadi apabila ketersediaan air bersih di kota Bandung tidak diperhatikan, maka kelak akan menjadi bencana, contohnya masalah sampah di kota Bandung sudah menjadi bencana besar, apalagi kalau tidak ada air bersih di kota Bandung, maka hal ini harus mulai diperhatikan sejak sekarang,” tegas Martin.
Terkait perilaku warga kota Bandung, Martin menegaskan, kultur dan kebiasaan warga kota Bandung masih semaunya, karena masih ada warga yang membuang sampah kecil dan besar seenaknya.
“Saya menghimbau, sebelum menyalahkan orang lain dan Pemerintah, mari kita berintropeksi diri, melihat secara jernih, jujur, dan objektif apakah kita sebagai warga kota Bandung sudah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, dan kontribusi apa yang sudah kita berikan untuk kota Bandung,” pungkas Martin.
Acara Riungers yang telah memasuki pertemuan kesepuluh diisi kegiatan cara membuat video kreatif dan singkat namun padat dan informatif untuk memasarkan produk, karena sektor ritel kini sudah dikuasai oleh online, dan masih banyak orang yang mempunyai produk, tetapi masih bingung untuk memasarkannya. (HNY/BRH)
